Seratan Takdir Sang Anak


Prolog

Berkisah tentang seorang anak, baiknya kuperkenalkan kalian dengannya. Anak ini (dia memintaku untuk tidak menyebutkan tentangnya) tidak seperti anak pada umumnya, lazimnya seorang anak seusia dia sedang riang bermain atau mungkin berkelahi dengan sebayanya. Tapi tidak dengan anak ini, saat yang lain sibuk bermain dia diam, saat yang lain berkelahi dia masih diam, saat yang lain asik berlari dia juga masih diam, diam yang membingungkan. Kalian pasti punya suatu sosok yang tertanam dipikiran kalian kan?. Setiap ku melihat anak itu terdiam, aku terbayang sosok kepala sekolah Hogwarts (pastinya kalian tau Harry Potter kan?) entah kenapa. Aku selalu penasaran dengan tatapan anak itu setiap dia terdiam, tubuhnya mungkin terdiam tapi tidak dengan matanya. Jika kalian bertemu dengannya kalian akan paham maksudku.
Kami bertemu di suatu taman, taman tempat dia terdiam dan taman tempat biasa ku menikmati rokok yang ku hisap perlahan. Awalnya aku tidak mengubrisnya, karena apapun yang dilakukan orang disana dia hanya terdiam. Sampai suatu saat aku terbatuk tersedak asap yang ku hisap, dikejutkan dengan senyum kecil menyeringai yang tiba tiba ada dihadapku. Tebakan kalian benar, senyum kecil itu milik anak yang dari tadi ku sebutkan. Kalian tahu? Tidak ada yang tergambar dari senyumnya. Biasanya sekali lihat aku bisa tahu arti senyuman seseorang, entah orang itu sedih, marah, kesal, jengkel atau mungkin hanya sekedar “topeng”. Tapi tidak dengan anak ini, senyumnya kosong menyembunyikan maksud didalamnya.
Kami terdiam cukup lama (mungkin hanya 2 menit, tapi jujur itu terasa sangat lama kalian  harus tahu), sampai akhirnya dia memulai pembicaraan. “kakak sedang apa? Aku bisa lihat kakak kesakitan di dalam, kenapa masih dihisap?” katanya. “Heh, anak kecil tahu apa?” ku jawab ketus, kesal rasanya ditanyai masalah rokok, ayahku saja tidak berani menanyakan itu. Anak itu hanya berbalik sambil mengangkat kedua tangannya, “terserah” timpalnya. Lalu dia kembali ke tempat dia biasa terdiam, dibawah pohon Ek besar ditengah taman lumayan jauh dari tempatku duduk. Sembil melihat dia berjalan menjauhiku, aku baru sadar bahwa kata-katanya janggal. Apa pula maksudnya berkata terlihat sakit? Sakit didalam pula, makin bingungku dengannya. Sesampainya di bawah pohon itu dia berbalik dan berteriak “Kak! Besok ayo bertemu lagi disini, ada yang ingin ku ceritakan!” teriaknya sambil menaruh kedua tangan didepan mulutnya seolah memegang pengeras suara. Pandanganku kabur, tiba-tiba hidungku gatal dan aku pun bersin. Sesaat kemudian ku lihat anak itu sudah tidak berada disana. Agak kaget ku dibuatnya, kuyakinkan diriku anak itu Sudah pulang karena langit juga sudah petang dengan jingganya yang menyala.
Pertemuan yang aneh memang, tapi asal kalian tahu saja. Saat itu aku penasaran dengan apa yang ingin diceritakan olehnya. Karena setahuku, dia tidak pernah melakukan apapun selain duduk diam dibawah pohon sambil memainkan tanah. Dan waktu itu aku juga tidak sadar, apa yang diceritakan anak itu akan menjadi tulisan ini. Tulisan yang kalian baca sekarang ini tidak lain hanyalah cerita dari anak itu yang ku tulis ulang kembali.  Mulanyanya anak itu tidak mau cerita ini disebarkan, tapi akhirnya dia mengizinkanku, itupun setelah merengek (jujur mungkin kalau kalian ada saat itu kalian akan tahu betapa memalukannya diriku saat meminta izinnya). Ini adalah cerita tentangnya, bukan aku tokoh utamanya kalian haru menggaris bawahi ini. Karena dibeberapa cerita kedepan aku mengubah sedikit alur ceritanya, menyesuaikan cerita. Entah kalian tertarik atau tidak dengan cerita ini, tapi cerita ini yang mengubah pandanganku tentang kalian. Cermati..

Komentar